Kamis, 26 Februari 2009

Manusia & Alam, sebaiknya bagaimana?

Sore ini membaca berita di situs berita lokal, ada satu berita yang memprihatinkan: terjadi lagi pembunuhan harimau sumatra - salah satu spesies hewan langka yang dilindungi - oleh warga setempat dengan alasan balas dendam. Pekan lalu rupanya sudah ada 3 harimau yang dibunuh warga dan 1 beruang. Mereka dibunuh karena menyerang manusia yang sedang membersihkan lokasi ladang baru.

Balas dendam? Manusiawi sekali, penuh nafsu dan diikuti pula alasan untuk tetap aman. Tapi apa bisa dibenarkan? Mereka hewan langka, yang sudah jelas-jelas dilindungi negara karena jumlahnya yang semakin sedikit. Hewan, mereka nggak bisa berpikir. Kalau mereka menyerang manusia tentunya ada sebabnya. Mungkin mereka merasa terganggu wilayah berburunya semakin sempit karena pola perladangan berpindah dan semakin banyaknya populasi manusia. Mereka juga butuh ruang untuk bertahan hidup. Mungkin mereka juga takut dengan manusia, dan satu-satunya cara mereka untuk mempertahankan diri dan wilayahnya adalah menyerang. Apa salah?

Di satu sisi dunia kita sibuk membantai binatang langka yang dilindungi yang masih beruntung sempat hidup di alam mereka. Di sisi dunia lain kita merayakan kelahiran hewan-hewan langka tersebut dalam kebun binatang. Apakah nanti kita hanya bisa meihat hewan-hewan tersebut di kebun binatang? Hewan hewan tangkaran yang kehilangan kebebasannya dan jiwa alaminya?

Satu pendapat adalah kita biarkan hewan dan tumbuhan ada di alamnya dan biarkan mereka hidup atau punah seperti yang seharusnya terjadi sesuai hukum alam, yang kuatlah yang bertahan hidup. Atau haruskah kita menangkarkan mereka, membiakkan mereka meskipun pada akhirnya mereka tidak mampu lagi bertahan hidup di alam bebas tanpa campur tangan kita?

Minggu, 15 Februari 2009

Wanita oh wanita…

“Denniiii…lama gak ketemu yaa!! Kok lo gendutan sih?” Inilah salah satu kalimat yang aku terima saat bertemu seorang teman kantor lama di sebuah angkot saat mau pulang. Capai dan lesu, reaksiku cuma senyum saja sambil mengiyakan.

Sepertinya sebagian besar perempuan punya masalah dengan rasa percaya diri mereka, terutama bila sudah bersinggungan dengan masalah berat badan. Di arisan, di kantor, di toilet, di angkot, bahkan sambil makan sekalipun, seringkali yang dibicarakan adalah masalah kurus-gemuk, naik turun berat badan. Aku heran, tidakkah mereka bisa merasa nyaman dan puas dengan kondisi badan mereka itu?

Anehnya, seringkali yang merasa kurang kurus adalah mereka yang sudah sekurus model. Ada juga yang ngomoooong melulu soal diet ini itu tapi nggak pernah olahraga. Kalau disarankan olahraga pasti bilang ”Aku push-up kok”. Halo? Push up berapa kali sehari dan kapan saja? Berapa kalori yang terbakar? Ujung-ujungnya malah kena tipes atau maagh akut gara-gara makan nggak bener atau diet asal. Kurus memang akhirnya, tapi karena sakit.

Gemuk kurus selalu jadi topik menarik setiap para wanita ngumpul. Sebagian besar pasti mengeluh kelebihan berat badan, jarang yang puas dengan beratnya saat itu, dan sedikit yang merasa terlalu kurus.

Sebenarnya apa yang mendasari mereka untuk sangat concern pada masalah itu? Kesehatan? Kecantikan? Kalau hanya itu sepertinya kaum kami perlu sering diingatkan. Langsing itu bagus asal sehat. Gemuk juga begitu. Kuncinya adalah pola hidup seimbang, begitu kata para ahli. Ngomong memang gampang, tapi prakteknya...

Kecantikan itu relatif, dan bukan berarti kurus itu cantik. Seperti baju, tidak semua model baju cocok dipakai setiap orang. Kurus juga tidak selamanya cantik untuk setiap orang. Agak kurusan bukan berarti kurus. Lihat sekitar kita, banyak wanita cantik yang berbadan cukup subur dan mereka tetap tampil menarik dan sehat berkat olah raga teratur. Banyak juga yang ekstra kurus dan bolak balik masuk rumah sakit karena masalah pencernaan, terlihat cekung dan layu serta tidak cukup bertenaga untuk olah raga. Pilih yang mana?

Jadi, sekali lagi jika hanya ingin sehat dan cantik, hidup seimbang. Cukup makan, minum, istirahat, dan olah raga. Cukup, tidak kurang tidak lebih. Selain itu, tolong deh buat para wanita, jaga mulut. Hormati setiap orang dengan tidak menyatakan kurus gemuknya mereka secara langsung. Tidak semua orang merasa nyaman dengan hal itu, terutama bila dibilang gemuk. Berkaca dulu sebelum bicara, tidak semua hal perlu keluar dari mulut. Apa terlalu sulit?

Fenomena Caleg Narsis

Musim Durian dan duku sudah lewat. Musim mangga masih jauh. Diantara kedua musim itu ternyata ada satu musim lagi; musim caleg narsis.

Bak perayaan 17-an, hampir di seluruh Indonesia, di sepanjang jalan banyak dipasang poster dan baliho. Bukan poster 17an dan acara-acara seru pendukungnya, tapi poster dan baliho foto-foto caleg yang sibuk ’nyalon’ untuk pemilihan legislatif, baik tingkat daerah maupun nasional.

Diantara sekian banyak foto caleg, sulit untuk melihat mana caleg yang bisa dipercaya dan layak dipilih. Tidak tanggung-tanggung para caleg mengumbar janji dan bujuk rayu untuk mempercayai mereka menjadi wakil rakyat. Dari foto yang tampak alim dan slogan kampanye yang ’sopan’, sampai yang super kreatif.

Rupanya foto bersama tokoh utama partai dinilai tidak cukup lagi. Tengok saja baliho anak jual bapak’papanya Chyntia Lamusu’ dan beberapa poster serupa. Belum lagi yang mencatut foto orang terkenal macam David Beckham dan Obama. Bahkan karakter superhero pun diciptakan. Tak tinggal diam, margasatwa ikut nampang supaya poster kelihatan garang.

Melihat berbagai gaya yang digunakan dalam kampanye melalui poster ini, sebersit pemikiran melintas di kepala saya. Apa iya orang-orang narsis abis ini yang akan kita pilih mewakili kita di legislatif nanti? Kok saya jadi prihatin. Memang masyarakat kita yang tidak sampai ke pendidikan tinggi cukup banyak, tapi apa ya sampai sebodoh itu dan senorak itu?

Sebagai caleg, sudah seharusnya punya metode kampanye yang sudah dipikirkan masak-masak bagaimana cara meraup suara sebanyak-banyaknya. Itu berarti meminta kepercayaan masyarakat. Dalam acara televisi yang diselenggarakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan para caleg, hasilnya memprihatinkan. Banyak caleg yang ternyata tidak mengetahui informasi vital tentang daerah yang akan diwakilinya, bahkan minim yang pengetahuan umumnya cemerlang.

Minimnya pengetahuan umum para caleg dan asal kampanye sudah bisa dilihat dari poster mereka. Misalnya mereka yang mencatur gambar dari internet dan asal pasang disamping foto mereka. Karena foto itu asal comot, resolusi fotonya rendah dan menjadi blur jika dicetak ukuran besar. Itu berarti bukan foto beli, dan bisa dituntut untuk asal comot. Masa caleg pada nggak ngerti sih tentang hak intelektual pribadi dan hukumnya?

Lebih parah lagi, seperti diangkat berita di televisi, ada caleg yang diperkarakan karena foto kampanye dan paraphernalianya ditandatangani ketua umum partai dan ikut mencatut agama tertentu yang menyatakan ’akan masuk neraka jika tidak memilih si A’. Mengenai hal ini si caleg menyatakan tidak tahu menahu mengenai hal itu dan bukan atas kemauannya poster-poster dan selebaran itu beredar.

What the f***? Apa mereka tidak melakukan proof reading untuk semua materi kampanye mereka? Apa mereka tidak khawatir nama dan image mereka justru jadi jelek? Sepertinya hal-hal semacam itu malah belum ngetrend ditelinga para caleg. Mungkin dari sekian banyak caleg hanya sedikit yang punya tim sukses yang benar-benar kompeten. Lha iya, bikin tim sukses kan butuh duit, padahal untuk ngeprint poster banyak aja udah mahal. Dana kampanye hanya boleh dari sumber yang tidak dilarang oleh KPU/PD atau undang-undang pemilihan umum. Lha kalau memang dananya sedikit, kenapa malah dihabiskan membabi buta dan bukannya dengan cerdas dan cermat?

Sepertinya caleg-caleg kita masih perlu banyak belajar. Ini baru dari satu sisi yang bisa secara langsung kelihatan oleh mata dan dinilai publik. Bagaimana nasib rakyat jika pemimpinnya cuma bisa narsis doang? Nasib oh nasib....

Kamis, 12 Februari 2009

Shopaholic Takes Manhattan

I wish I were Becky Bloomwood.
Ya, Becky Bloomwood is sucah a lucky woman. Tapi kadang memang kita tidak menyadari seberapa beruntungnya kita, sampai kita melihat mereka yang sedikit kurang beruntung dibandingkan kita.
Membaca buku kedua serial Shopaholic karangan Sophie Kinsela ini membuat aku berpikir betapa beruntungnya Becky.

Pada serial ini dikisahkan tentang perjalanan cinta dan karir Becky. Becky akhirnya justru mengencani Luke Brandon, seorang pengusaha sukses di bidang PR yang menjadi rivalnya saat membantu menyelesaikan masalah finansial Janis – tetangga keluarga Becky. Ternyata membantu Janis keluar dari permasalahanya tidak hanya membuatnya mendapatkan hati Luke, selain masalah keuangannya pun teratasi, Becky juga akhirnya mendapatkan pekerjaan baru di televisi sebagai seorang narasumber di bidang finansial dalam acara Morning Coffee. Ironis bukan, Becky yang kacau balau dalam mengatur keuangannya justru dipercaya sebagai seorang financial expert, berkat kelihaiannya dalam berbicara dengan pemirsa, empati, dan cara pikir Becky yang luar biasa dan berbeda dari orang pada umumnya. Becky juga ternyata memiliki insting dan ingatan yang cukup kuat yang membantunya memberikan saran-saran sekaliber financial expert. Kemampuan komunikasinya mampu menjelaskan masalah dan penyelesaiannya secara mudah pada orang awam yang sulit mengerti bahasa planet yang biasa digunakan para ahli keuangan. Wow, sebenarnya hebat sekali bukan si Becky itu? She’s really a girl next door meet financial expert. Cantik, pintar dan pandai berkomunikasi.

Tapi apa yang salah dengan Becky, yang tentu saja sekali lagi terlilit masalah yang sangat pelik dan melibatkan Luke. Saat Becky mengetahui dari Alicia ”Bitchlonglegs” Billiton bahwa Luke akan pindah ke New York, hatinya hancur karena Luke sama sekali tidak pernah menyebutkan hal itu. Why? Why? Kata itu terus muncul dan seperti biasa Becky mengarang jawabannya sendiri. Tapi alangkah senangnya ia saat Luke menyatakan hal itu dan memintanya untuk ikut serta ke New York. Luke memang sengaja ingin memberitahukan semua pada Becky saat semua sudah siap dan pasti. Ia ingin membuka cabang Brandon Communication di New York.

Bayangkan! Pucuk di Cinta ulam tiba. New York! Salah satu ibukota fashion ternama di dunia! Dan Becky akan kesana…

Seperti buku sebelumnya, Becky yang gila belanja diceritakan secara lucu dan menarik, emosinya yang menggebu-gebu jelas digambarkan disini. Caranya yang sembunyi-sembunyi menyelinab belanja dan menyembunyikan belanjaannya membuat aku geleng-geleng kepala, senyum-senyum dan kadang mengelus dada. Apa ada bener ya orang seperti Becky ini, yang gila belanja sampai segitunya. Gesek sana sini dengan berbagai macam kartu kredit.

Dan Becky pun menemukan surga belanjanya di Barney, salah satu pusat perbelanjaan besar di New York. Karena pengetahuannya yang sangat luas tentang fashion terbaru dan merek-merek terkenal, sampai-sampai personnal shopper di Barney pun kalah olehnya, yang seolah lebih tahu isi Barney daripada mereka. Hal itu mengundang perhatian salah satu pimpinan di Barney.

Tapi ternyata bisnis Luke di New York tidak semulus yang direncanakan. Bahkan bukan hanya bisnisnya, tapi hubungannya dengan ibu kandungnya dan Becky pun juga tidak lancar. Hanya Michael, salah satu rekan bisnis Luke, yang dapat diajak Becky bicara.

Puncak masalah muncul saat tiba-tiba Becky menerima telepon dari Suze dan ibunya yang cukup aneh. Ternyata Becky menjadi berita di salah satu koran Inggris yang juga terbit di Amerika. Dan itu berita negatif, yang secara tidak langsung mempengaruhi kelangsungan bisnis Luke di Amerika. Karir becky di televisi pun berakhir, dan ia pun memutuskan untuk pulang ke Inggris sendirian, tanpa Luke, yang sedang marah besar.

Di Inggris, Becky mulai membereskan satu persatu masalahnya, dari hutang kartu kredit yang semakin besar, mencari pekerjaan baru, dan membersihkan nama. Secara tidak sengaja ia juga menemukan konspirasi yang dilakukan Alicia bersama beberapa orang lainnya untuk menghancurkan bisnis Luke. Karena ia peduli, ia menginformasikan hal ini kepada Luke melalui Michael.

Revenge time is just soooo sweeettt...
Becky akhirnya setuju untuk tampil di acara Morning Coffe untuk terakhir kalinya, tapi bukan sebagai fiancial expert. Ia diminta untuk tampil dan mengkonfirmasi semua gossip tentang kehancuran kondisi keuangannya dan karirnya secara live di televisi. Khas Becky yang manis, ia dapat memutar balikkan keadaan dengan sempurna dan mengucapkan selamat tinggal kepada Inggris melalui acara tersebut. Sekali lagi ia membktikan bahwa ia bukan orang yang tidak bisa apa-apa kecuali belanja. Ia akan pergi ke Amerika untuk menjalani karir barunya di sana. All wells end well.

Bagaimana dengan hubungannya dengan Luke? Seperti biasa, semua berakhir baik-baik saja. Becky masih menjalin hubungan baik dengan Luke, hanya saja saat ini adalah saat Becky membuktikan diri sebagai seorang wanita mandiri. I wish i could be just like her...