Kamis, 12 Februari 2009

Shopaholic Takes Manhattan

I wish I were Becky Bloomwood.
Ya, Becky Bloomwood is sucah a lucky woman. Tapi kadang memang kita tidak menyadari seberapa beruntungnya kita, sampai kita melihat mereka yang sedikit kurang beruntung dibandingkan kita.
Membaca buku kedua serial Shopaholic karangan Sophie Kinsela ini membuat aku berpikir betapa beruntungnya Becky.

Pada serial ini dikisahkan tentang perjalanan cinta dan karir Becky. Becky akhirnya justru mengencani Luke Brandon, seorang pengusaha sukses di bidang PR yang menjadi rivalnya saat membantu menyelesaikan masalah finansial Janis – tetangga keluarga Becky. Ternyata membantu Janis keluar dari permasalahanya tidak hanya membuatnya mendapatkan hati Luke, selain masalah keuangannya pun teratasi, Becky juga akhirnya mendapatkan pekerjaan baru di televisi sebagai seorang narasumber di bidang finansial dalam acara Morning Coffee. Ironis bukan, Becky yang kacau balau dalam mengatur keuangannya justru dipercaya sebagai seorang financial expert, berkat kelihaiannya dalam berbicara dengan pemirsa, empati, dan cara pikir Becky yang luar biasa dan berbeda dari orang pada umumnya. Becky juga ternyata memiliki insting dan ingatan yang cukup kuat yang membantunya memberikan saran-saran sekaliber financial expert. Kemampuan komunikasinya mampu menjelaskan masalah dan penyelesaiannya secara mudah pada orang awam yang sulit mengerti bahasa planet yang biasa digunakan para ahli keuangan. Wow, sebenarnya hebat sekali bukan si Becky itu? She’s really a girl next door meet financial expert. Cantik, pintar dan pandai berkomunikasi.

Tapi apa yang salah dengan Becky, yang tentu saja sekali lagi terlilit masalah yang sangat pelik dan melibatkan Luke. Saat Becky mengetahui dari Alicia ”Bitchlonglegs” Billiton bahwa Luke akan pindah ke New York, hatinya hancur karena Luke sama sekali tidak pernah menyebutkan hal itu. Why? Why? Kata itu terus muncul dan seperti biasa Becky mengarang jawabannya sendiri. Tapi alangkah senangnya ia saat Luke menyatakan hal itu dan memintanya untuk ikut serta ke New York. Luke memang sengaja ingin memberitahukan semua pada Becky saat semua sudah siap dan pasti. Ia ingin membuka cabang Brandon Communication di New York.

Bayangkan! Pucuk di Cinta ulam tiba. New York! Salah satu ibukota fashion ternama di dunia! Dan Becky akan kesana…

Seperti buku sebelumnya, Becky yang gila belanja diceritakan secara lucu dan menarik, emosinya yang menggebu-gebu jelas digambarkan disini. Caranya yang sembunyi-sembunyi menyelinab belanja dan menyembunyikan belanjaannya membuat aku geleng-geleng kepala, senyum-senyum dan kadang mengelus dada. Apa ada bener ya orang seperti Becky ini, yang gila belanja sampai segitunya. Gesek sana sini dengan berbagai macam kartu kredit.

Dan Becky pun menemukan surga belanjanya di Barney, salah satu pusat perbelanjaan besar di New York. Karena pengetahuannya yang sangat luas tentang fashion terbaru dan merek-merek terkenal, sampai-sampai personnal shopper di Barney pun kalah olehnya, yang seolah lebih tahu isi Barney daripada mereka. Hal itu mengundang perhatian salah satu pimpinan di Barney.

Tapi ternyata bisnis Luke di New York tidak semulus yang direncanakan. Bahkan bukan hanya bisnisnya, tapi hubungannya dengan ibu kandungnya dan Becky pun juga tidak lancar. Hanya Michael, salah satu rekan bisnis Luke, yang dapat diajak Becky bicara.

Puncak masalah muncul saat tiba-tiba Becky menerima telepon dari Suze dan ibunya yang cukup aneh. Ternyata Becky menjadi berita di salah satu koran Inggris yang juga terbit di Amerika. Dan itu berita negatif, yang secara tidak langsung mempengaruhi kelangsungan bisnis Luke di Amerika. Karir becky di televisi pun berakhir, dan ia pun memutuskan untuk pulang ke Inggris sendirian, tanpa Luke, yang sedang marah besar.

Di Inggris, Becky mulai membereskan satu persatu masalahnya, dari hutang kartu kredit yang semakin besar, mencari pekerjaan baru, dan membersihkan nama. Secara tidak sengaja ia juga menemukan konspirasi yang dilakukan Alicia bersama beberapa orang lainnya untuk menghancurkan bisnis Luke. Karena ia peduli, ia menginformasikan hal ini kepada Luke melalui Michael.

Revenge time is just soooo sweeettt...
Becky akhirnya setuju untuk tampil di acara Morning Coffe untuk terakhir kalinya, tapi bukan sebagai fiancial expert. Ia diminta untuk tampil dan mengkonfirmasi semua gossip tentang kehancuran kondisi keuangannya dan karirnya secara live di televisi. Khas Becky yang manis, ia dapat memutar balikkan keadaan dengan sempurna dan mengucapkan selamat tinggal kepada Inggris melalui acara tersebut. Sekali lagi ia membktikan bahwa ia bukan orang yang tidak bisa apa-apa kecuali belanja. Ia akan pergi ke Amerika untuk menjalani karir barunya di sana. All wells end well.

Bagaimana dengan hubungannya dengan Luke? Seperti biasa, semua berakhir baik-baik saja. Becky masih menjalin hubungan baik dengan Luke, hanya saja saat ini adalah saat Becky membuktikan diri sebagai seorang wanita mandiri. I wish i could be just like her...

Tidak ada komentar: