Bak perayaan 17-an, hampir di seluruh Indonesia, di sepanjang jalan banyak dipasang poster dan baliho. Bukan poster 17an dan acara-acara seru pendukungnya, tapi poster dan baliho foto-foto caleg yang sibuk ’nyalon’ untuk pemilihan legislatif, baik tingkat daerah maupun nasional.
Diantara sekian banyak foto caleg, sulit untuk melihat mana caleg yang bisa dipercaya dan layak dipilih. Tidak tanggung-tanggung para caleg mengumbar janji dan bujuk rayu untuk mempercayai mereka menjadi wakil rakyat. Dari foto yang tampak alim dan slogan kampanye yang ’sopan’, sampai yang super kreatif.
Rupanya foto bersama tokoh utama partai dinilai tidak cukup lagi. Tengok saja baliho anak jual bapak’papanya Chyntia Lamusu’ dan beberapa poster serupa. Belum lagi yang mencatut foto orang terkenal macam David Beckham dan Obama. Bahkan karakter superhero pun diciptakan. Tak tinggal diam, margasatwa ikut nampang supaya poster kelihatan garang.
Melihat berbagai gaya yang digunakan dalam kampanye melalui poster ini, sebersit pemikiran melintas di kepala saya. Apa iya orang-orang narsis abis ini yang akan kita pilih mewakili kita di legislatif nanti? Kok saya jadi prihatin. Memang masyarakat kita yang tidak sampai ke pendidikan tinggi cukup banyak, tapi apa ya sampai sebodoh itu dan senorak itu?Sebagai caleg, sudah seharusnya punya metode kampanye yang sudah dipikirkan masak-masak bagaimana cara meraup suara sebanyak-banyaknya. Itu berarti meminta kepercayaan masyarakat. Dalam acara televisi yang diselenggarakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan para caleg, hasilnya memprihatinkan. Banyak caleg yang ternyata tidak mengetahui informasi vital tentang daerah yang akan diwakilinya, bahkan minim yang pengetahuan umumnya cemerlang.
Minimnya pengetahuan umum para caleg dan asal kampanye sudah bisa dilihat dari poster mereka. Misalnya mereka yang mencatur gambar dari internet dan asal pasang disamping foto mereka. Karena foto itu asal comot, resolusi fotonya rendah dan menjadi blur jika dicetak ukuran besar. Itu berarti bukan foto beli, dan bisa dituntut untuk asal comot. Masa caleg pada nggak ngerti sih tentang hak intelektual pribadi dan hukumnya?Lebih parah lagi, seperti diangkat berita di televisi, ada caleg yang diperkarakan karena foto kampanye dan paraphernalianya ditandatangani ketua umum partai dan ikut mencatut agama tertentu yang menyatakan ’akan masuk neraka jika tidak memilih si A’. Mengenai hal ini si caleg menyatakan tidak tahu menahu mengenai hal itu dan bukan atas kemauannya poster-poster dan selebaran itu beredar.
What the f***? Apa mereka tidak melakukan proof reading untuk semua materi kampanye mereka? Apa mereka tidak khawatir nama dan image mereka justru jadi jelek? Sepertinya hal-hal semacam itu malah belum ngetrend ditelinga para caleg. Mungkin dari sekian banyak caleg hanya sedikit yang punya tim sukses yang benar-benar kompeten. Lha iya, bikin tim sukses kan butuh duit, padahal untuk ngeprint poster banyak aja udah mahal. Dana kampanye hanya boleh dari sumber yang tidak dilarang oleh KPU/PD atau undang-undang pemilihan umum. Lha kalau memang dananya sedikit, kenapa malah dihabiskan membabi buta dan bukannya dengan cerdas dan cermat?
Sepertinya caleg-caleg kita masih perlu banyak belajar. Ini baru dari satu sisi yang bisa secara langsung kelihatan oleh mata dan dinilai publik. Bagaimana nasib rakyat jika pemimpinnya cuma bisa narsis doang? Nasib oh nasib....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar